PENGURUS MWC NU KEC. BINONG MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

Minggu, 17 Januari 2010

KH. Masdar Farid Mas'udi : NU dan Kebangkitan Islam

Ketua PBNU KH. Masdar Farid Mas’udi meyakini bahwa kebangkitan Islam itu hanya bisa dimulai dari Indonesia, dan kuncinya di NU. Demikian katanya dalam acara Kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Kiswah) yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim di Ruang Salsabila Kantor PWNU Jatim, Sabtu (7/2). Berikut wawancara Yusuf Suharto ( Yus ) dari NU Online dengan KH. Masdar Farid Masudi (MFM), Ketua PBNU:

Yus : Benarkah kebangkitan dunia Islam musti bermula dari Indonesia ?

MFM: Saya meyakini itu. Sadar atau tidak kita ini sedang ditunggu. Sejauh ini, dari berbagai negara Islam di dunia, yang secara lengkap memenuhi persyaratan untuk menjadi pemimpinnya, ya Indonesia.

Yus : Mengapa Indonesia, apa kelebihan-kelebihannya dibanding negara-negara Islam lain?

MFM : Ada banyak faktor unggulan, antara lain: wilayahnya paling luas, letaknya strategis, dengan kekayaan alam yang melimpah dan beraneka, jumlah umat Islamnya terbesar, dan yang tidak kalah penting corak keislamannya yang tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran) terhadap kebhinekaan. Faktor terakhir adalah karakter keislaman Nusantara, keislaman yang dianut dan dihayati oleh NU.

Yus: Kenapa kepemimpinan Indonesia yang penuh potensi itu belum juga muncul?

MFM: Karena NU sebagai juru kuncinya belum sempat menata diri dengan semestinya. Dari waktu ke waktu selalu saja ada pihak yang karena kedengkiannya, terus berusaha meminggirkan NU dan umatnya. Sebagian mereka karena pandangan keagamannya yang picik dan menganggap dirinya yang paling benar, sebagian karena hasrat politik dan kekuasaan yang berlebihan. Lihat selama lebih dari tiga dasawarsa terakhir, NU terus dipinggirkan dan dilumpuhkan, terutama di masa Orba. Padahal semua orang tahu, Orba tidak mungkin hadir tanpa NU. Tapi begitu mereka menata kekuasannya, NU dilumpuhkan, umatnya diintimidasi. Padahal setiap bangsa ini dalam bahaya, NU dan para ulama/ Kiainya selalu tampil di depan untuk menyelamatkannya.

Yus: Bagaimana supaya peran NU bisa dioptimalkan untuk kejayaan NKRI dan kepemimpinannya di dunia Islam?

MFM: Pertama kedengkian dari pihak luar terhadap NU harus diakhiri; baik kedengkian secara teologis maupun politis. Kedua, pihak internal NU sendiri, baik jajaran pemimpin di semua level dan segenap warganya di seluruh pelosok negeri harus berbenah secara super serius. Kita boleh meyakini, apa yang kita anut adalah kebenaran – sekali pun kita tidak boleh takabur dengan mengklaim diri kita satu-satunya yang benar. Kebenaran itu milik Allah semata. Tapi ingat, kata Sayyidina Ali, kebenaran tanpa ”nidham”, gampang dikalahkan oleh kebatilan yang ber-nidham.

Yus: Apa itu nidhom, Kiai?

MFM: Nidhom adalah organisasi dan manajemen. Atau dalam bahasa Rasulullah SAW, kejamaahan kita yang kurang. Padahal hanya dengan kejamaahan, kita bisa mendapatkan kekuatan dari Allah SWT yang luar biasa. Alaikum biljamaah; Yadullah fauqal jamaah/ Kalian wajib berjamaah; Kekuatan Allah hanya dianugerahkan kepada mereka yang mau berjamaah. Wadah kebersamaan (jamaah) itulah yang kita sebut jam’iyah, atau organsiasi.

Yus: Bagaimana kita memperkuatnya?

MFM: Syarat utama dan pertama-tama kita harus sepakat mengenai tujuan bersama dan agenda bersama sebagai Nahdliyin. Ingat tujuan bersama, bukan tujuan perorangan yang yang kebetulan sama. Saya dan anda bisa punya tujuan. Misalnya ke pasar; dengan agenda yang sama, untuk jualan. Apa yang terjadi? Kita tidak harus berangkat bareng, dan di pasar kita bisa saling menjatuhkan. Tujuan bersama adalah agenda untuk kepentingan bersama, yang tidak mungkin dicapai tanpa diusahakan bersama, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Yus: Apa tujuan bersama NU, untuk semua warga NU?

MFM: Tujuan bersama (ghayah ijtimaiyyah/ collective goal) kita sebagai warga Nahdliyin dalam wadah NU adalah ”terwujudnya tatanan masyarakat Islam Indonesia yang maju dan bermartabat sesuai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang bercirikan tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), tawasuth (moderat) dan i’tidal (lurus).

Yus: Kalau agenda-agenda utamanya?

MFM: Mengacu pada apa yang dipikirkan para pendiri NU ada 4 (empat) agenda besar: Pertama, agenda menjaga integritas dan keutuhan NKRI, seperti diinspirasikan oleh gerakan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air); Kedua, agenda memajukan ”Pemikiran Keagamaan” yang mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah dan bergerak maju, seperti diinspirasikan oleh gerakan Tashwirul Afkar (Reformulasi Pemikiran Keagamaan); Ketiga, agenda memajukan ”Kesejahteraan umat” dimulai dari yang paling nyata, kesejahteraan ekonomi, seperti diinspirasikan oleh gerakan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan para Pedagang); Keempat adalah agenda mempertahankan ”Keberislaman yang santun dan kokoh dalam garis moderasi” seperti diinspirasikan oleh missi Komite Hijaz. Memang sasaran tembak Komite Hijaz waktu itu adalah untuk menyangkal gerakan ekstrim kanan Wahabisme-Fundamentalistik. Tapi secara implisit juga koreksi terhadap kecenderungan ekstrim kiri Sekularisme-Liberalistik.

Yus: Bagaimana kiprah NU dengan empat egenda utama itu?

MFM: Kita harus akui dengan jujur, bahwa dari empat agenda itu, baru satu yang berjalan dengan baik, yakni: Agenda mempertahankan keutuhan NKRI. Mungkin karena ini agenda emosional dan fisikal, kita boleh mengklaim yang terbaik dari semua. Baik ketika era revolusi kemerdekaan, ketika ada gangguan separatisme DI/TII, ketika menghadapi G30-S PKI, dan munculnya aksi separatisme belakangan. Tapi tiga agenda lainnya, kita harus akui sangat lemah. Itulah mengapa kita suka mengibaratkan diri lebih sebagai pasukan pendorong mobil mogok. Seluruh tenaga (fisik) kita kerahkan; sesudah itu kita ditingggalkan di jalan. Harus kita sadari bahwa untuk memenangkan ketiga agenda yang selama ini terbengkalai itu, kita butuh kebersamaan yang kokoh dengan dukungan kepemimpinan yang juga solid dari, minimal tiga unsur.

Yus: Siapa saja ketiga unsur yang Kiai maksud?

MFM: Pertama, kalangan profesional terdidik yang memiliki kemampuan dan komitmen pengabdian, sebagai gugus andalan pelayanan umat garda depan, di semua lini; mulai pusat sampai di tingkat kepengurusan akar rumput. Komponen ini akan lebih baik kalau bisa mencapai 70% dari keseluruhan pengurus NU. Komponen kedua, adalah para ulama/ Kiai yang berwawasan kepemimpinan (qiyadah) dan pengayoman (riayah), sebagai jangkar keutuhan serta integritas moral/ akhlaq jam’iyah, mulai dari tingkat paling bawah sampai dengan tingkat teratas. Karena keterbatasan manusia pilihan ini, dengan 25% saja dari keseluruhan kepengurusan kita sudah sangat bersyukur. Komponen ketiga, yang lebih elite dan khawas adalah gugusan awliya sebagai jangkar spiritual jam’iyah; yakni orang-orang suci yang kesibukannya hanya berdoa dan berdoa dengan air mata dalam kesunyian malam agar NU dan bangsa ini tetap dalam perlindungan, bimbingan dan ridlo-Nya. Jika komponen ini ada 5% saja dari gugusan kepemimpinan NU, itu sudah sangat mewah. Bahkan hanya 1% atau 0.01 % pun kita sudah merasa tentram. Karena inilah yang secara mendasar membedakan NU dari ormas lainnya. Tanpa kehadiran dan tangis mereka rasanya apalah bedanya NU dengan lainnya.

Yus: Itu tadi perihal unsur-unsur kepemimpinan NU. Bagaimana dengan jamaahnya, warganya? Kualifikasi apa yang harus mereka miliki?

MFM : Ya, pertama-tama mereka harus faham dan menyadari bahwa mereka adalah warga atau anggota dari sebuah wadah kebersamaan, wadah keumatan yang namanya NU.

Yus: Apakah mereka belum memiliki pemahaman dan kesadaran itu?

MFM : Jangankan mereka, bahkan elite NU sendiri banyak yang belum. Selama ini kita, dan segenap umat yang disebut Nahdliyin kan hanya merasa NU, karena kebetulan menganut amaliyah keagamaan yang sama: qunut, tahlilan, mauludan, dibaan dsb. Dikiranya ber-NU cukup dengan itu. Tahlilan dsb itu tradisi dan amaliyah keagamaan yang sudah ada ratusan tahun sebelum Mbah Hasyim dan Mbah Wahab bikin NU. NU yang dibikin Mbah Hasyim tidak lain adalah organisasi, wadah kebersamaan bagi para pengamal tradisi dimaksud untuk memikul cita-cita bersama dengan empat agenda kolektif yang saya sebutkan tadi. Jadi ber-NU itu tidak cukup hanya dengan tahlil dan dibaan, atau bahkan ngaji kitab kuning, yang kesemuanya adalah agenda perorangan. Memang, pasti bukan NU kalau ngemohi tahlil dan qunut. Tapi meski sudah tahlil dan qunut kalau belum menyatadkan diri bergabung dalam wadah kebersamaan yang bernama NU juga belum bisa disebut warga NU seperti yang dimaksudkan oleh Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Demikian pula baru bisa disebut pengurus NU, kalau yang diurus juga lebih dari sekedar tahlil dan ngaji. Disebut pengurus NU kalau yang diurus adalah empat agenda di atas untuk kepentingan warganya yang secara kultural adalah ahlul qunut wat tahlil.

Yus: Darimana kita musti memulai untuk membangun NU sebagai wadah kebersamaan?

MFM : Pertama kita harus lakukan dakwah secara serentak dari Sabang sampai Merauke, kepada penganut kultur keagaman NU agar secara sadar bergabung dalam wadah jamiyah NU. Untuk itu di semua sekolah, pesantren, mushalla dan masjid-masjid Nahdliyin harus segera dibentuk kepengurusan NU. Kita harus NU-kan warga NU. Yang bukan warga NU jangan diganggu. Jangan kita ikuti akhlak orang-orang yang suka nyerobot kepunyaan orang lain. Kita tidak boleh jahat, dengan mengambil hak orang lain. Tapi kita juga tidak boleh ”bodoh” dengan membiarkan orang lain mengambil hak kita. Ingat kaidah Fiqh, La dloror wa la dlirar.

Yus: Itu pun terkadang tidak gampang

FMF : Di dunia ini tidak ada yang gampang. Tapi ingat, juga tidak ada yang mustahil, kalau kita mau bekerja keras, tidak gampang menyerah. jangan lembek. Man jadda wajada/ Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Itu jaminan Allah! Jangan pernah kita meragukannya!

Untuk itu, beri pengertian kepada mereka apa hakikat NU sebagai wadah keumatan. Sebagai organisasi, NU adalah ibarat masjid, masjid virtual (maknawi) yang tidak kasat mata tapi nyata adanya. Bedanya, masjid jasmani yang terbuat dari kayu dan beton adalah tempat kita menunaikan amal saleh perorangan (fardiyah) untuk hablun minallah secara berjamaah; sementara NU sebagai organisasi adalah masjid tempat kita menunaikan amal saleh kolektif (ijtimaiyah) secara berjamaah. Salat saja sebagai agenda perorangan (fardiyah) yang sah dilakukan sendirian, toh kita disuruh berjamah; bagaimana dengan amaliyah kolektif (membangun kejayaan umat) yang tidak mungkin terwujud tanpa kebersamaan? Pastilah jamaah untuk kesalehan sosial jauh lebih diperintahkan dibanding dengan jamaah kesalihan individual. Maka membangun NU sebagai masjid virtual, masjid sosial, bisa lebih besar pahalanya, dibanding membangun masjid material. Dan meramaikan NU sebagai masjid sosial dengan kesalihan sosial, tentunya juga lebih besar keutamaannya, dibanding dengan memakmurkan masjid material dengan kesalihan personal. Sebagai umat Islam yang mengemban cita-cita kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin) mutlak untuk membangun dan memakmurkan kedua masjid tadi.

Yus : Pertanyaan terakhir. Bagaimana komentar Kiai tentang pembaharuan yang didengung- dengungkan kalangan Muda NU.

MFM: Pada dasarnya saya ingin menempatkannya pada agenda Tashwirul Afkar seperti saya singgung di depan. Organisasi keulamaan terbesar di dunia tentunya juga bisa menginspirasi tumbuhnya pemikiran keagamaan yang besar. Tapi, karena tantangan zaman terlalu deras, kelihatannya anak-anak muda kita menjadi terlalu bernafsu. Lalu muncullah tendangan-tendangan yang, ibarat main sepak bola, keluar garis. Saya secara pribadi telah menegurnya.

Yus : Apa garis yang membatasi gerak pemikiran-pemikiran itu menurut Kiai?

MFM : Menurut saya garis itu cukup jelas. Berfikirlah maju, wahai anak-anak muda, asal tidak sampai mengharamkan yang secara qath’iy dihalalkan, dan menghalalkan yang secara qath’iy diharamkan (ma lam yuhillu haraman atau yuharrimu halalan). Inilah garis yang saya sendiri pegangi, sesuai sabda Rasulullah SAW riwayat Tirmidzi, Al-muslimun ala syuruthihim illa syarthan ahalla haraman atau harrama halalan. Bahwa ada yang berprasangka, maka mudah-mudahan bisa mengurangi dosa saya. Alhamdulillah! (NU Online)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar