PENGURUS MWC NU KEC. BINONG MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

Selasa, 09 Maret 2010

Kang Said : Perkembangan Gerakan Radikal di tubuh Umat Islam


Untuk mendiskusikan sejarah per¬kembangan gerakan radikal dan eks¬trem di tubuh umat Islam, Ketua PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siraj MA mengungkapkannya dengan gamblang dan jelas, dibawah ini wawancara dengan kang said yang kami kutip dari Majalah Sabili (14/01/2010). Berikut kuti¬pan¬nya:

Sejarah kelompok ekstrem di dalam umat Islam?

Lahirnya kelompok ekstrem sudah ada sejak abad pertama Hijriyah. Tapi kelompok ini
mulai berani menun¬jukkan diri di hadapan Nabi saw sekitar tahun 8 H, pada saat Rasulullah saw baru saja memenangkan perang Hu¬nain. Dalam perang ini ghanimah yang diperoleh melimpah. Dalam pembagian yang dila¬kukan di Ja’ronah, tempat miqad umrah, sahabat senior Nabi seperti, Abu Bakar, Usman, Umar, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapat ghanimah. Tapi sahabat yang baru masuk Islam, men¬dapat ghanimah meski mereka sudah kaya.

Tiba-tiba seseorang yang bernama Dzil Khuwaisir maju ke depan dengan som¬bong sambil berkata, “Berlaku adillah wahai Muhammad.” Nabi saw pun berkata, “Celakalah kamu, yang saya lakukan ini adalah perintah Allah dan tidak ada orang yang lebih adil di atas bumi ini melebihi saya.”

Setelah Dzil Khuwaisir pergi, Rasulullah saw bersabda: “Akan lahir (muncul) dari umat Islam orang-orang yang hafal al-Qur’an tapi tidak melewati tenggoro¬kannya (tidak memahami sub¬tansi misi-misi al-Qur’an dan hanya hafal di bibir saja). Mereka itu sejelek-jeleknya makhluk bahkan lebih jelek dari bina¬tang. Mereka tidak termasuk dalam golo¬ngan¬ku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka,” (HR Shahih Muslim).

Prediksi Nabi saw terbukti pada Ahad pagi, 17 Ramadhan 40 H. Pagi itu Khalifah Rasyidin ke-4, Ali bin Abi Thalib, dibu¬nuh di Kuffah. Pembunuhnya adalah Abdur¬rahman Ibnu Muljam. Sebenar¬nya, yang akan dibunuh ada dua orang lagi yakni, Gubernur Syam (Syria) Muawiyah Bin Abu Sofyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Yang akan membunuh kedua pe¬mimpin Islam ini masing-masing adalah Abdul Mubarok dan Bakr Attamimi.

Mengapa mereka membunuh?

Mereka menganggap Sayidina Ali kafir. Kenapa kafir? Karena Ali menerima keputusan hasil musyawarah (per¬jan¬jian), tahun 37 H, antara utusan Khalifah Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dan utusan Muawiyah yang dipimpin Amr Bin Ash. Masing-masing utusan berjumlah 350 orang. Perjanjian ini dilakukan untuk menghentikan perang saudara, Perang Shifin.

Padahal, mereka yang melakukan pembunuhan adalah kelompok yang memaksa Ali ra untuk menerima per¬damaian (perundingan) ketika pepe¬rangan hampir saja dimenangkan oleh pasukan Ali. Ketika Amr bin Ash mela¬kukan tipuan dengan mengangkat Mus¬haf al-Qur’an sebagai tanda mengajak perdamaian, Ali ra dan Komandan Pasukannya, Malik Ibnul Astar, tidak mempercayainya. Tapi karena didesak oleh sekelompok orang akhirnya Ali pun menerima perjanjian. Anehnya, mereka yang sebelumnya menekan Ali bin Abi Thalib untuk menerima perdamaian, akhirnya menganggap Ali kafir karena menerima perdamaian, dan mereka pun membunuh Ali ra.

Kelompok ini memakai mushaf hanya untuk melegitimasi tindakannya?
Nah itulah. Mereka adalah ke¬lom¬pok yang tidak memahami Islam. Me¬reka rata-rata adalah qaimul lail, qaimun nahar, hafidzul qur’an. Mereka hafal al-Qur’an, setiap malam shalat Tahajud, hampir tiap hari puasa sunnah, jidad¬nya hitam, dan lututnya kapalan untuk sujud. Gam¬ba¬ran ini diriwayatkan secara detail dalam syarah-nya Shahih Muslim, termasuk sosok Dzil Khu¬waisir. Imam Nawawi menjelaskan, Dzil Khuwaisir adalah sosok yang berjidat hitam, kepalanya botak tidak berambut, tinggi gamisnya setengah kaki, dan jenggotnya panjang.

Apakah ini cikal bakal tumbuhnya kelompok ekstrem di dalam umat Islam?

Iya, karena dari kelompok yang mem¬bunuh Khalifah Ali inilah lahir kelompok yang disebut Khawarij. Ke¬lompok ini memiliki prinsip, orang yang melakukan dosa besar satu kali dianggap kafir. Jadi, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Aisyah, Thalhah, Zubair dan sahabat Nabi saw lainnya yang terlibat Perang Jamal atau Shifin yang membunuh sesama Muslim, dianggap kafir.

Kelompok ini berkembang menjadi oposisi pemerintah sepanjang masa. Kelompok ini juga memiliki militansi luar biasa dan cenderung nekat, karena 80 orang berani melawan penguasa Bani Umayyah. Akibatnya, mereka pun tidak pernah menang, jika mati dalam pepe¬rangan mereka menganggapnya syahid. Kelompok ini pecah menjadi beberapa kelompok seperti, azariqah dan najdad. Yang paling ekstrem yakni Azariqah menga¬takan, pokoknya selain orang khawarij adalah kafir.

Awalnya, Ali ra tak menggubris, tapi setelah kelompok ini membunuh Ab¬dullah bin Khabbab dan istrinya karena tak mau mengkafirkan Ali, lalu Ali ra memerintahkan pasukan memerangi mereka. Terjadilah peperangan semua lawannya tewas dan menyisakan enam orang, dua diantaranya lari ke Bahrain, dan Afrika Utara.

Untuk menanggapi slogan kelompok ini yang mengatakan, la hukma Ilallah (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Ali ra mengatakan, Kalimatu haqqin uridu bihal baathil (Perkatakan mereka benar bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah, tapi yang tidak benar adalah motif, tujuan, dan tendensi dari perkataan itu yang digunakan sebagai alat mengka¬firkan orang lain).

Apa hubungannya dengan berdirinya dinasti Saud di Arab Saudi?

Sampai akhir abad 17, jazirah Arab masih terbagi empat wilayah, bagian utara berpusat di Syam (Syiria), timur di Nejd, barat di Hijaz, dan selatan di Yaman. Tapi awal abad 18, Gubernur Nejd, Muhammad Ibnu Saud, yang didukung seorang ulama bernama Mu¬ham¬mad bin Abdul Wahab memisahkan diri dari Khilafah Usmani. Pertama kali muncul, gerakan ini langsung dihabisi oleh Khalifah Utsmani yang meme¬rintahkan Gubernur Mesir, Raja Fuad, untuk memeranginya. Dalam pertem¬puran ini Muhammad Ibnu Saud bisa dikalahkan dan salah satu anaknya, Faisal terbunuh.

Tapi Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Muhammad Saud, cucu Muham¬madh Saud melarikan diri ke Bahrain menghimpun kekuatan. Begitu ada ke¬sem¬patan, dengan dukungan pasukan yang sangat militan, Abdul Aziz menye¬rang Makkah. Begitu masuk Makkah, mereka langsung meratakan semua kuburan, termasuk kuburannya Siti Khadijah, Abdullah bin Zubaer, Asma binti Abu Bakar, dan semua kuburan para ulama.

Situs-situs sejarah perkembangan Islam juga dibongkar seperti, rumah Abdul Muthallib dijadikan toilet, rumah Sayidina Ali dijadikan kandang keledai, Babu Bani Syaibah (tempat bersejarah untuk menentukan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad) dibongkar, Baitul Arqam (tempat pengkaderan Assabi¬qun al Awalun) dibongkar, Darun Nadwah dibongkar, dan tempat mengajar Imam Syafi’i juga dibongkar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar